MENGAJAK DENGAN BIJAK, BUKAN DENGAN MENGINJAK

 

Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menyinggung tentang faktor mendasar dari adanya Aliran Takfiri, diantaranya yaitu Gelora Hawa nafsu yang amat fatal dalam diri seseorang sehingga berdampak pada merasa diri lebih baik, dan merasa paling benar. Yah betul, merasa diri paling benar inilah yang kemudian menjadikan seseorang egois, dan anarkis. Selain mereka merasa paling benar, mereka pula merasa paling sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, khususnya dalam berdakwah. Berbicara terkait dakwah, hal pertama yang perlu kita ketahui ialah definisi dari dakwah itu sendiri. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Dakwah ialah penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Lebih simpelnya kita artikan dakwah sebagai ajakan atau seruan yang mengarah kepada hal-hal yang baik. Seperti kita ketahui Rasulullah SAW ialah tokoh pemimpin yang menjadi teladan kaum muslimin dalam segala aspek. Dalam menyampaikan pesan-pesan Tuhan, Rasulullah adalah contoh manusia yang memanusiakan manusia. Beliau memiliki pribadi yang sangat lembut, ramah, menarik, dan tidak pernah bertindak kasar atau berbicara kasar.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari disebutkan bahwa :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيُهِ وَسَلّمَ سَبَّابًا وَلاَ لَمَّامًا وَلاَ فَاحِشًا

Anas Ra menuturkan bahwa : "Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang keji".

Dari pemahaman hadis diatas, kita tidak menemukan satu poin pun Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya tindakan tercela dan tindakan yang keluar dari etika. Lantas sebenarnya siapa yang mereka ikuti dalam berdakwah, jika Rasulullah sebagai panutannya saja tidak pernah mengajarkan untuk bertindak anarkis, berkata kasar, dan lain-lain. Atau mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain? Wallahu a'lam

Tentunya semua orang islam tau bahwa Rasulullah diutus utamanya untuk menyempurnakan budi pekerti. Karena itu, dalam hal apapun khususnya dalam berdakwah Rasulullah senantiasa mencontohkan dan mengajarkan keluhuran budi. Sehingga banyak orang yang kemudian tertarik untuk masuk islam. Berdakwah adalah menarik orang untuk masuk islam, bukan membuatnya lari dari agama islam. Tetapi, bagaimana orang tidak lari dari agama islam itu sendiri sedangkan dai-dainya sangar, bertindak kasar, dan tidak berbudi? Sehingga dalam hal ini muncul kecurigaan kepada mereka, Jangan-jangan mereka ini antek-antek Yahudi yang ditugasi mencemarkan agama islam dengan berkedok islam.

Pada akhirnya sangat dikhawatirkan tatkala kita mulai mendaku, dengan mengiringi tudingan, bahwa islam itu seperti ini bukan begitu, tepat di detik yang sama kita telah diperdaya oleh hawa nafsu kita sendiri dan bujuk rayu setan. Hawa nafsu dan setan telah bersekutu dan bersemayam dalam diri kita, hingga mampu untuk membingkai kebatilan dengan pesona kebenaran (al-haqq). Tetapi, pada nyatanya hal tersebut dapat merusak marwah islam sendiri.

Berdakwahlah dengan gaya dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah, dengan mengedepankan budi pekerti. Berdakwahlah dengan bijak, bukan dengan menginjak. Karena, bagaimana kita mengajak orang lain untuk mengikuti Rasulullah sedangkan kita sebagai dai mencontohkan sikap dan kelakuan yang bertolak belakang dengan sikap dan perilaku Rasulullah SAW. Dalam dakwah saja ada keraguan yang muncul ketika tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah dalam berdakwah. Apalagi ada orang-orang yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah tetapi sifat dan budi pekertinya tidak mencerminkan sama sekali sifat dan budi pekerti yang dimiliki oleh kakek moyangnya yaitu Baginda Agung Rasulullah. Apakah tidak boleh untuk dicurigai?


Ibnu Syafi'i Al-Bantani 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumlah dalam pemahaman Nahwu:Dasar Pemahaman Bahasa Arab

Menolak Tawassul: Pertanda ketidak berimanan

RAUDLATUL JAMI’ SYARAH JAM’UL JAWAMI’, KITAB USHUL FIKIH KARYA K.H. IMADUDDIN UTSMAN AL-BANTANI