ISLAM AGAMA ETIKA

Indonesia adalah sebuah Negara yang sangat besar dengan populasi penduduk kurang lebih mencapai 281.603.800 jiwa. Terdapat beragam Agama yang dianut penduduk Indonesia, diantara Agama yang diakui dan dianut oleh Masyarakat Indonesia Ialah Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, namun tidak menjadikan kemudian Islam sebagai Nomor Satu. Karena Indonesia punya semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, dan menjadikan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Sumber Hukum. Dalam islam terdapat Hukum Agama yang menetapkan Peraturan hidup Manusia, hubungan Manusia dengan Allah, hubungan Manusia dengan Manusia, hubungan Manusia dengan Alam yang semuanya itu Berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadis. Adapun hukum Agama itu lebih kita kenal dekat dengan sebutan Syariat. Tujuan Allah SWT menetapkan Syariat ialah untuk mengatur kehidupan Manusia, baik yang berskala Ubudiyah maupun Muamalah agar berjalan dengan baik (Maslahat). Dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadis banyak yang menuturkan perihal orientasi besar yang beratasnamakan Kemaslahatan. Dalam sebuah Maqolah Imam Ja'far As-Shadiq pernah berkata :

الدِّيْنُ حُبٌّ وَالْحُبُّ دِيْنٌ

“Agama adalah Cinta, dan Cinta adalah Agama”

Maqolah ini merepresentasikan kepada kita bahwa didalamnya terdapat nilai-nilai moralitas kemanusiaan dan nilai-nilai spiritualitas keislaman yang saling mengisi. Dimana, tegaknya spiritualitas islam ialah dengan menegakkan etika (mortalitas) kemanusiaan. Begitupun dengan tegaknya moralitas kemanusiaan yaitu dengan tegaknya spiritualitas islam itu sendiri. Lantas mengapa dalam etika (moralitas) kemanusiaan diperlukan menegakkan spiritualitas islam “Mengapa perlu mengaitkan Agama” ? Semua orang boleh untuk berbuat baik, sekalipun ia tidak beragama (Ateis). Namun, hal demikian dianggap tidak cukup dan kokoh. Sehingga peran agama diperlukan untuk menjadi landasan dan rujukan yang holistik-komprehensif dan sakral-eskatologis. Holistik-komprehensif mencoba menpertautkan nilai-nilai profan kemanusiaan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam dunia spiritualitas. Hingga dalam hal ini bisa menjadi sebuah landasan bagi seseorang yang tidak memiliki Agama untuk bisa menjadi Manusia baik. Adapun sakral-eskatologis yaitu Ajaran-ajaran yang ada dalam dimensi spiritualitas, yang kemudian ajaran itu menjadi sakral dan diyakini akan kebenarannya dengan Reward yang akan diperolehnya kelak dikemudian hari.

Dengan ini, kita dapat memahami bahwa seseorang yang memahami arti dari sebuah ajaran Agama secara mendalam maka akan menjadikannya sosok yang etis-humanis. Dengan kata lain, orang yang sering mencaci maki, orang yang sering memfitnah, orang yang sering mengadu domba, orang yang sering berkata kasar, berarti ia tidak memahami ajaran agama itu sendiri walaupun ia mengatasnamakan Keturunan Nabi. Di sisi lain, sebagaimana dikatakan Gus Dur dengan satire, bisa saja ada orang yang saleh ritualnya, tetapi menjadi sosok yang asosisal bahkan tiran.

Semua narasi diatas merefleksikan contoh yang sangat esensial terkait bagaimana etika kemanusiaan sebagai puncak paripurna syariat. Dalam Al-qur'an disebutkan “Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin, dan kami tidak mengutusmu wahai Muhammad kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta ini ”. Dalam hadis juga disebutkan “Innama bu'istu liutammima makarimal akhlaq, sesunguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Diksi “Rahmat & Akhlak yang mulia “ merupakan way of life dan worldview yang paling bisa kita sepakati secara menyeluruh (universal) sebagai etika, moral, dan kemanusiaan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumlah dalam pemahaman Nahwu:Dasar Pemahaman Bahasa Arab

Menolak Tawassul: Pertanda ketidak berimanan

RAUDLATUL JAMI’ SYARAH JAM’UL JAWAMI’, KITAB USHUL FIKIH KARYA K.H. IMADUDDIN UTSMAN AL-BANTANI