KAFIR ENTE, SESAT ENTE
Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia dijadikan sebagai khalifah dimuka bumi merupakan sebuah pertanda bahwa manusia lebih unggul dari makhluk yang lain. Manusia diberikan anugerah oleh Tuhan berupa akal pikiran. Ketika manusia berusaha untuk mengerahkan akal pikirannya dalam rangka memahami, menggali, mendapatkan, atau mengikuti pandangan berislam yang begini atau begitu, bermazhab atau beraliran ini dan itu, sejatinya semua itu hal yang niscaya dan alamiah belaka. Semua itu merupakan konsekuensi logis dalam upaya peningkatan keimanan yang kemudian membawanya kepada ketakwaan dan berujung pada ekspresi sosial. Tidak bisa kita pungkiri, dalam upaya memahami, dan menggali suatu hal pasti berdampak pada sebuah perbedaan dalam menghasilkan pemahaman. Tetapi jangan kemudian menjadikan kita lebih baik dari orang lain yang berbeda pemahaman dengan kita. Apalagi sampai pada taraf mengkafirkan. Karena hal demikian dapat melukai perasaan orang tersebut.
Sepanjang sejarah islam banyak sekali pemikiran dan aliran yang muncul dan bertebaran, salah satunya ialah Aliran takfiri (mengkafirkan). Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) takfiri adalah kelompok ekstrem yang mudah mengkafirkan sesama muslim yang dianggap melakukan dosa karena perbedaan pendapat persoalan khilafiah hukum Islam. Aliran ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah sebagai pembawa risalah. Dalam riwayat manapun beliau tidak pernah mencontohkan sikap kasar, menyalahkan, merendahkan, melecehkan, apalagi menyesatkan dan mengkafirkan kepada umatnya yang berbeda pendapat dengannya. Kurang lebih ada 2 Hal mendasar yang menjadikan kelompok ini ekstrem yaitu : (1) Kelemahan Rasional dalam memahami bahwa mustahil pemahaman islam itu berbeda-beda, dimana semuanya itu sama-sama merujuk kepada Al-Qur'an dan Al-Hadis. (2) Gelora Hawa nafsu yang amat fatal dalam diri sehingga berdampak pada merasa diri lebih baik, lebih benar, dan merasa pemahamannya lebih sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Dampak yang akan terjadi dari 2 hal mendasar ini ialah akan terjadinya ketidak harmonisan kita dalam relasi sosial, serta akan merusak watak hakiki islam itu sendiri yaitu sebagai agama yang Rahmatan lil ‘alamin. Praktik mengkafirkan demikian sungguh bersebrangan dengan moral etis kemanusiaan yang menjadi tujuan utama Kerasulan Muhammad SAW. Sayyidina Ali Ra pernah berkata :
“Jadikanlah orang lain sebagai timbangan bagi dirimu. Perlakukanlah orang lain sebagaimana Engkau ingin diperlakukan. Hormatilah orang lain sebagaimana Engkau ingin dihormati, dan jangan rendahkan orang lain sebagaimana Engkau tak ingin direndahkan”.
Seorang filosof muslim pernah mengatakan bahwa "Istilah tafkir (pemikiran) dan takfir (mengkafirkan) memiliki perbedaan yang sedikit sekali. Bedanya hanya kata tafkir, fa' -nya didahulukan atas kaf, sedangkan takfir, kaf -nya lebih dulu daripada fa' -nya. Jika anda tidak tepat menempatkan satu huruf, anda tidak bisa berfikir maka hasilnya adalah kafir".
Pada akhirnya, jika kita temukan oknum-oknum atau kelompok yang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, maka jangan diikuti dan jangan dijadikan sebagai panutan sekalipun mereka mengaku sebagai keturunan Nabi SAW. Lawan pemikirannya dan Jangan takut kuwalat. Dengan catatan masih dalam koridor keilmuan dan adab. Jaga kerukunan, jaga keharmonisan sosial dengan saling asah, asih, dan asuh tanpa membeda-bedakan suku dan ras.
Ibnu Syafi'i Al-Bantani
Komentar
Posting Komentar