Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2024

Jumlah dalam pemahaman Nahwu:Dasar Pemahaman Bahasa Arab

Gambar
A.Pengertian Jumlah Dalam kitab Kifayah al-Ashab karya syekh Abdullah Zaini bin Muhammad Aziz Al-Jawi disebutkan bahwa : لأنّ المراد بالجملة كلّ مركّب إسناديّ أفاد أم لم يفد Yang dikehendaki dengan jumlah adalah setiap kalimat yang tersusun, yang disandarkan, baik berfaedah maupun tidak. Contoh Jumlah yang berfaedah (memberikan pemahaman bagi pendengar) : قامَ زيدٌ (Zaid telah berdiri). Adapun contoh jumlah yang tidak berfaedah : إن قام زيد (jika Zaid telah berdiri). Jumlah sifatnya lebih umum daripada kalam. Oleh karena itu, setiap kalam tentu bisa disebut jumlah karena sudah tersusun. Tetapi, tidak setiap jumlah bisa disebut kalam karena belum tentu berfaedah. B.Pembagian jumlah Dalam kitab qowaid al-i'rab karya syekh Yusuf bin Abdul Qodir al-Barnawi disebutkan bahwa, jumlah terbagi menjadi 5 macam. إسميّة فعليّة ظرفيّة # وذات وجهين وزد شرطيّة Jumlah ismiyyah, fi'liyyah, dzorfiyyah, dzatu wajhain, dan syartiyyah. 1. Jumlah ismiyyah Dalam kitab Nahwu al-Wadih karya Dr. ...

Menolak Tawassul: Pertanda ketidak berimanan

Tawassul adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar suatu permohonan dapat dikabulkan. [1] Adapun yang dituju dari tawassul ini ialah hanya Allah semata. Banyak terjadi kesalahan dalam memahami sebuah ayat Al-Qur'an yang kemudian menjadikan golongan ini melarang tawassul. Adapun ayat yang mereka jadikan sebagai landasan dalam pelarangan tawassul, ialah : اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُۗ وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِه اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” [2] Dalam hal ini, Syekh Abdul Hayy Al-'Amrawi dan Syekh Abdul Karim Murad memberikan sebuah pernyataan bahwa ayat ini menegaskan bahwa mereka menyembah berhala untuk tujuan tersebut...

STOP MEMBANGGA-BANGGAKAN NASAB

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Mengajak dengan bijak, bukan dengan menginjak”. Penulis mengajukan sebuah pertanyaan terkait Apakah boleh kita mencurigai nasab dari oknum-oknum yang mengatasnamakan keturunan Nabi, dimana sifat dan budi pekertinya sama sekali tidak mencerminakan sifat dan budi pekerti yang dimiliki oleh leluhurnya yaitu Baginda Nabi SAW. Dalam hal ini, penulis akan memberikan pandangan terkait pertanyaan ini.  ...... Polemik nasab, khususnya nasab ba’alawi menjadi bahan perbincangan publik belakangan ini. Bermula karena adanya sebuah penelitian yang dilakukan oleh KH. Imaduddin Utsman yang mengatakan bahwa Nasab para habaib (Ba’alawi) tidak tersambung kepada Rasulallah SAW. Ba’alawi adalah rumpun keluarga di Yaman yang di mulai dari datuk mereka yang bernama Alawi bin Ubaidillah. Yang kemudian lebih dekat kita kenal dengan sebutan habib. Terlepas dari pembahasan apakah mereka keturunan Nabi atau bukan, penulis akan tetap fokus kepada pertanyaan diatas. .......