STOP MEMBANGGA-BANGGAKAN NASAB


Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Mengajak dengan bijak, bukan dengan menginjak”. Penulis mengajukan sebuah pertanyaan terkait Apakah boleh kita mencurigai nasab dari oknum-oknum yang mengatasnamakan keturunan Nabi, dimana sifat dan budi pekertinya sama sekali tidak mencerminakan sifat dan budi pekerti yang dimiliki oleh leluhurnya yaitu Baginda Nabi SAW. Dalam hal ini, penulis akan memberikan pandangan terkait pertanyaan ini. 

......

Polemik nasab, khususnya nasab ba’alawi menjadi bahan perbincangan publik belakangan ini. Bermula karena adanya sebuah penelitian yang dilakukan oleh KH. Imaduddin Utsman yang mengatakan bahwa Nasab para habaib (Ba’alawi) tidak tersambung kepada Rasulallah SAW. Ba’alawi adalah rumpun keluarga di Yaman yang di mulai dari datuk mereka yang bernama Alawi bin Ubaidillah. Yang kemudian lebih dekat kita kenal dengan sebutan habib. Terlepas dari pembahasan apakah mereka keturunan Nabi atau bukan, penulis akan tetap fokus kepada pertanyaan diatas.

......

Curiga dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ialah (merasa) kurang percaya atau sangsi terhadap kebenaran atau kejujuran seseorang (takut dikhianati dan sebagainya). Curiga kepada seseorang memang tidak dilarang. Sebab hal itu bisa menjadi upaya bagi kita untuk selalu waspada agar tidak sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimana tidak terjadi kecurigaan terhadap nasab para habib, sedangkan kini banyak dari oknum mereka yang sifat dan budi pekertinya jauh dengan sifat dan budi pekerti yang dimiliki oleh datuknya (Nabi SAW). Namun, jangan berlebihan apalagi jika belum tau kebenarannya, karena hal itu dapat masuk dalam ranah su’u dzan (berburuk sangka) dan fitnah. Itulah sebabnya, penting bagi kita untuk melihat faktanya terlebih dahulu sebelum menaruh kecurigaan terhadap siapapun, khususnya nasab Ba’alawi.

......

Bangsa arab memang sangat memperhatikan nasab, baik di masa jahiliyyah maupun islam. Di masa jahiliyyah nasab menjadi media pemersatu mereka dalam menghadapi ancaman dari musuh. Sehingga pada waktu itu, nasab menjelma menjadi kemuliaan bagi mereka, yang kemudian menjadikan mereka berbangga-bangga dengan leluhurnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan berlandaskan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya, yang berbunyi :

عن أبي هريرة عن النبي صلّى الله عليه وسلّم لينتهينّ أقوام يفتخرون بأبائهم الّذين ماتوا 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda : Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang sudah mati.

Namun, setelah islam datang nasab bukan lagi menjadi penentu kemuliaan. Karena, kemuliaan dalam islam ditentukan berdasarkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Pada masa islam, nasab memang masih dijaga namun bukan untuk berbangga-bangga, melainkan hanya untuk menjalin silaturrahmi antar keluarga. Nabi SAW bersabda :

عن أبي هريرة عن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال : تعلّموا من انسابكم ما تصلون به أرحامكم

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda : Pelajarilah dari nasab kalian sesuatu yang dapat menyambungkan kalian dengan sanak familly kalian.

Kesimpulannya ialah bahwa tidak adanya sebuah larangan untuk mecurigai siapapun, dengan catatan jangan sampai berlebihan karena ditakutkan dapat mendorong kepada suatu hal yang dilarang yaitu berburuk sangka. Selayaknya sebelum menaruh kecurigaan kepada suatu hal harus dibekali dengan fakta dan data terlebih dahulu, apalagi terkait polemik nasab ba’alawi ini. Lantas apakah Kiyai Imad punya data dan fakta dalam penelitiannya? Kita bahas ditulisan selanjutnya In sya Allah

Catatan akhir dari penulis adalah Lebih baik tidak mengklaim diri sebagai keturunan nabi, tetapi kelak dihari akhir nabi mengakuinya sebagai keturunannya. Daripada mengklaim dirinya sebagai keturunan nabi dihari ini, tetapi dihari akhir Nabi tidak mengakuinya sebagai keturunannya. Membangga-banggakan nasab hanyalah tradisi orang jahiliyah sebelum datangnya islam.

من ادّعى الى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه حرّم الله عليه الجنّة

Ibnu Syafi'i Al-Bantani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumlah dalam pemahaman Nahwu:Dasar Pemahaman Bahasa Arab

Menolak Tawassul: Pertanda ketidak berimanan

RAUDLATUL JAMI’ SYARAH JAM’UL JAWAMI’, KITAB USHUL FIKIH KARYA K.H. IMADUDDIN UTSMAN AL-BANTANI