Tuhan, Muhammad-kan Aku
Dengan inilah kemudian Rasulullah Muhammad sebagai Manusia yang paling utama disebut dengan insan kamil (manusia yang paripurna). Mengapa? Karena Rasulallah mampu mengendalikan potensi buruk yang ada dalam dirinya dengan kemudian menajamkan potensi baik yang ada dalam dirinya, mengalahkan nafsu dengan akalnya, membendung arus jahat yang ada pada diri dengan berupaya sabar menahan diri serta senantiasa berjuang untuk tidak jatuh menjadi binatang, apalagi setan. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan terbesar manusia adalah perjuangan menjadi manusia, serta memperjuangkan akal sehat adalah pergulatan terhebat. Sayangnya, kita tidak satu zaman dengan Rasulullah sebagai suri teladan bagi umatnya. Sehingga kita tidak bisa secara langsung melihat perilaku lemah lembutnya, melihat sosok teladan yang penuh cinta dan kasih. Tetapi kita perlu bersyukur, Tuhan tidak ridho kita hidup dalam kebodohan, Tuhan tidak ridho kita hidup dalam kegelapan, dengan itu kemudian ia hadirkan para alim-ulama di tengah-tengah kehidupan kita, sebagai bentuk ejawantah dari teladan Rasul yang Agung. Ulama adalah sosok yang menjadi pewaris para Nabi, baik secara ilmiah maupun amaliah. Sikap dan teladannya setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa pewarisnya saja memberikan sedemikian akhlak yang begitu mulia, bagaimana dengan Nabinya. Nabi adalah rasul yang cerdas dan penuh welas asih. Lantas, mungkin kita bisa meMuhammad-kan diri kita?
Secara bahasa Muhammad adalah isim maf'ul dari kata Hammada-yuhammidu-tahmidan-wadzaka muhammadun yang memiliki arti Terpuji. Dengan melalui pendekatan bahasa ini kita bisa mencoba untuk meMuhammad-kan diri kita, dengan apa? Pastinya, dengan meneladani setiap sikap dan akhlak mulia yang telah beliau ajarkan kepada para sahabatnya, lalu sahabat mencetak magnet-magnet ilmu dan akhlak bernama Tabi'in. Begitulah seterusnya hingga para alim-ulama, khususnya di Nusantara. Pendek kata, amal yang simpel untuk menjadi orang saleh ialah mendekat dan bergaul dengan para alim-ulama. Jika kita belum bisa mencintai Tuhan dan utusannya, teruslah berusaha untuk senantiasa mencintai orang-orang yang cinta kepada Tuhan dan utusannya. Sehingga dapat kita tarik benang merah bahwa mustahil kita meraih ridho Tuhan dengan cara menyakiti sesama, yang notabene sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama tercipta dari Nur Muhammad (Cahaya nabi Muhammad). Sebelum Anda belajar tentang Tuhan dan Agama, terlebih dahulu belajarlah tentang manusia dan kemanusiaan. Agar kelak, ketika Anda membela Tuhan dan agama, anda tidak lupa bahwa Anda manusia.
Terdapat ujar-ujar lama yang mengatakan "urip iku urup" (Hidup itu nyala, hidup itu saling berbagi, tukar-menukar kebaikan). Dalam segala praktek ibadah pun kita diajarkan untuk memantulkan nilai-nilai ibadah itu diluar ibadah. Sehingga, hanya menegakkan dimensi ketuhanan dengan mencerderai kemanusiaan adalah keliru, begitupun sebaliknya.

Uhuuy keren a
BalasHapus