Ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar Melalui Perdebatan Nasab Ba’alawi
Di tengah panasnya perdebatan Nasab Habaib sebagai keturunan Nabi, para ulama ada yang ikut merespons ada juga yang tidak ikut merespons terkait perdebatan ini. Setidaknya penulis akan menguraikan beberapa alasan para ulama yang ikut merespons dalam perdebatan Nasab Ba’alawi.
.....
Perdebatan Nasab Ba’alawi bermula dengan adanya sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kiyai asal Banten yaitu KH. Imaduddin Utsman. Dalam penelitiannya beliau menyatakan bahwa Habaib bukan keturunan nabi Muhammad SAW. Hal ini kemudian menuai pro dan kontra dari para ulama. Lantas apakah penelitian yang dilakukan Kiyai Imad ini dianjurkan? Sangat dianjurkan, karena pengakuan yang mereka lakukan dinisbahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, Ibnu Hajar al-Haitami berkata :
ينبغي لكل أحد أن يكون له غيرة فى هذا النسب الشريف وضبطه حتى لا ينتسب اليه صلى الله عليه وسلم أحد الا بحقّ
“Seyogyanya bagi setiap orang mempunyai kecemburuan terhadap nasab mulia Nabi Muhammad SAW dan mendhobitnya (memeriksanya) sehingga seseorang Tidak menisbahkan diri kepada (nasab) Nabi Muhammad SAW kecuali dengan Sebenarnya.”
Meneliti atau menakar akan kesahihan nasab seseorang yang mencurigakan, yang menisbahkan dirinya kepada nabi Muhammad SAW adalah Fardhu Kifayah. Karena hal ini termasuk dalam kategori Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Bahkan haram bagi para ulama untuk diam terkait banyaknya terjadi pengakuan seseorang yang menisbahkan dirinya kepada Baginda nabi Muhammad SAW dengan dusta. Syekh Ibrahim bin Mansur berkata :
ولا يجوز للعالم كتمان علمه فى هذا الباب فأمانة العام والكشف عن اختلاط الأنساب من الأمر بالمعروف
“Dan tidak boleh bagi seorang alim menyembunyikan ilmunya dalam bab ini (nasab), maka amanah dalam ilmu dan membongkar tercampurnya nasab adalah Bagian dari amar ma’ruf dan nahi munkar”.
.....
Selain pengakuannya sebagai keturunan Nabi SAW. Lebih parahnya lagi mereka seakan-akan menganggap bahwa posisi Nasab jauh lebih mulia daripada ilmu, melalui pernyataannya “Satu habib yang bodoh lebih mulia daripada 70 Kiyai yang alim”. Hal demikian sangat bertentangan dengan tradisi keislaman. Dimana Islam lebih mementingkan nilai-nilai ketakwaan dan keilmuan seseorang dibandingkan nasabnya. Tetapi perlu kita ketahui, nilai-nilai membanggakan nasab itu ada pada tradisinya orang-orang Jahiliyyah sebelum datangnya Islam.
عن أبي هريرة عن النبي صلّى الله عليه وسلّم لينتهينّ أقوام يفتخرون بأبائهم الّذين ماتوا
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda : Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang sudah mati.
Taman Baca :
Ash-Showa’iq al Muhriqoh: 2/537
Ushulu wa Qowaid Fi Kasfi Mudda’I al-Syaraf: 13

Komentar
Posting Komentar